BAB
I
PENDAHULUAN
Penelitian
eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan
untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap
tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh
tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut
maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari
suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding
dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu
eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan
(pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar
matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya
pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep.
Tindakan
di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan,
semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas adalah mengukur atau
melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan sekaligus ingin
menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau
berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama
tetapi diberi perlakuan yang berbeda.
BAB II
PENELITIAN EKSPERIMEN
A. Pengertian
Penelitian Eksperimen
Penelitian
eksperimen adalah penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan
tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2008: 72)
Gay
dalam Emzir menyatakan bahwa metode penelitian eksperimen merupakan
satu-satunya penelitian yang dapat menguji secara benar hipotesis menyangkut
hubungan kausal (sebab akibat). Dalam studi eksperimen peneliti mamanipulasi
paling sedikit satu variabel, mengontrol variabel lain yang relevan, dan
mengobservasi efek/pengaruhnya terhadap satu atau lebih variabel terikat.
Peneliti menentukan “siapa memperoleh apa”, kelompok mana dari subjek yang
memperoleh perlakuan yang mana. Manipulasi variabel bebas merupakan salah satu
karakteristik yang membedakan penelitian eksperimen dengan penelitian lain.
Variabel bebas juga diasu sebagai variabel eksperimental, variabel penyebab, atau
variabel perlakuan yang aktivitas atau karakteristiknya dipercaya membuat suatu
perbedaan. Dalam penelitian pendidikan, variabel yang biasa dimanipulasi
termasuk metode pengajaran, jenis penguatan (reinforcement), pengaturan
lingkungan belajar, jenis materi belajar, ukuran kelompok belajar. Variabel
terikat juga diacu sebagai variabel kriteria atau variabel pengaruh, yaitu
hasil dari studi. Perubahan atau perbedaan dalam kelompok sebagai suatu hasil
manipulasi variabel bebas (Emzir, 2008: 63-64).
Penelitian
eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis,
dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian
eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect
relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental
dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau
lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.
B.
Karakteristik
Penelitian Eksperimen
Penelitian Eksperimen pada umumnya memiliki tiga
karakteristik penting yaitu: manipulasi, mengontrol variabel dan melakukan
observasi.
1.
Manipulasi
Karakteristik pertama yang selalu ada dalam
penelitian eksperimen adalah adanya tindakan manipulasi variabel yang secara
terencana dilakukan oleh si peneliti. Yang dimaksud dengan manipulasi yaitu
tindakan atau perlakuan yang dilakukan oleh seorang peneliti atas dasar
pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka guna
memperoleh perbedaan efek dalam variabel terikat (Sukardi, 2008: 181).
Secara sederhana manipulasi dimaksudkan bahwa
peneliti memutuskan apa bentuk atau nilai-nilai variabel bebas yang akan
diambil dan kelompok mana yang akan mendapat bentuk yang mana. Agar dapat
memanipulasi suatu variabel, kita yang harus menentukan siapa akan menjadi apa
atau siapa akan mendapat apa. Walaupun desain suatu penelitian eksperimental
dapat mencakup beberapa variabel yang ditentukan. Sekurang-kurangnya satu
variabel harus dimanipulasi.
2.
Mengontrol
Variabel
Menurut Gay dalam Emzir pengendalian mangacu pada
usaha-usaha pihak peneliti untuk menyingkirkan pengaruh suatu variabel (selain
variabel bebas) yang dapat mempengaruhi performansi pada variabel terikat.
Dengan kata lain, peneliti ingin agar kelompok sedapat mungkin sama, dengan demikian
perbedaan utama diantara mereka hanyalah variabel bebas yang disebabkan oleh
peneliti (Emzir, 2008: 67)
Kegiatan mengontrol suatu variabel atau subjek dalam
penelitian eksperimen memiliki peranan penting, karena tanpa melakukan control
secara sistematis, seorang peneliti tidak mungkin dapat melakukan evaluasi
dengan melakukan pengukuran secara cermat terhadap variabel terikat.
Sebelum
eksperimen dilaksanakan ada berbagai faktor, variabel, serta kondisi apa saja
yang berkaitan dengan kegiatan eksperimen yang perlu diperhatikan. Hal ini
untuk mengantisipasi adanya perbedaan sesudah eksperimen itu benar-benar
disebabkan oleh metode bukan karena faktor lain. Faktor-faktor yang perlu
diperhatikan antara lain sebagai berikut:
a. Latar
belakang kebudayaan. Pelajar yang mempunyai kebudayaan yang berbeda besar
kemungkinan mempunyai sifat dan kebiasaan yang berbeda pula. Untuk itu perlu
diperhatikan agar adanya perbedaan bukan karena faktor ini tetapi faktor metode
mengajarnya. Ada siswa yang setiap hari selalu belajar bersama dengan
kakak-kakaknya, mengikuti pelajaran tambahan setiap sore, dan sebagainya.
b. Dasar
matematika; Sebelum eksperimen dimulai siswa masing-masing kelas/kelompok perlu
diseimbangkan agar tidak terjadi salah satu kelas terdiri atas siswa yang pandai-pandai,
sedang kelas lainnya terdiri atas siswa yang sedang dan kurang pandai. Sehingga
adanya perbedaan hasil akhir eksperimen bukan disebabkan oleh metode mengajar
tetapi oleh kondisi siswa yang berbeda.
c. Ruangan
kelas. Ruangan kelas kedua calon kelompok eksperimen dan kontrol itu harus
dibuat sedemikian sehingga tidak ada perbedaan kebisingan, kepengapan karena
ventilasi yang kurang, tata ruang, dan tata cahaya.
d. Waktu
belajar. Perlu diperhatikan waktu berlangsungnya jam pelajaran, tidak
diperkenankan kelompok eksperimen (E) masuk pagi kelompok control (K) masuk
sore atau sebaliknya. Jika kelas E masuk pagi, kelas K harus masuk pagi, kalau
kelas E masuk jam 8.00 kelas K tidak boleh masuk jam 12.00, sehingga hasil
eksperimen dikotori oleh faktor masuk sekolah. Selain itu, jumlah jam kedua
kelas/kelompok harus sama
e. Cara
mengajar. Metode-metode yang akan dicobakan harus ditetapkan dan dirancang
lebih dahulu serta dijalankan secara tertib dan benar. Cara guru mengajar harus
sesuai dengan pola yang ditetapkan dalam desain eksperimen yang dipersiapkan.
f. Guru/pengajar.
Latar belakang pendidikan, serta pengalaman mengajar diupayakan mempunyai
tingkat, level, atau derajat yang seimbang. Demikian tingkat kedisiplinan
maupun kemampuannya.
g. Lain-lain.
Walaupun peneliti sudah berupaya mengendalikan variabel non eksperimen agar
tidak memengaruhi hasil eksperimen, namun sering dijumpai adanya kejadian yang
sulit dikontrol dan diprediksi, misalnya: tiba-tiba dijumpai adanya siswa yang
suka mengganggu jalannya pelajaran, sehingga mempengaruhi temannya untuk tidak
disiplin, atau terganggu konsentrasinya akibat ulah satu atau beberapa
temannya. Dapat terjadi pula adanya pemberian bimbingan belajar di luar jam
pelajaran, baik oleh anggota keluarga atau yang lain.
3.
Melakukan
observasi
Selama proses penelitian berlangsung, peneliti
melakukan observasi terhadap kedua kelompok tersebut. Tujuan melakukan
observasi adalah untuk melihat dan mencatat fenomena apa yang muncul yang
memungkinkan terjadinya perbedaan diantara dua kelompok. Dalam proses
eksperimen yang biasanya ada dua kelompok variabel, yaitu variabel bebas dan
variabel terikat, maka peneliti dianjurkan untuk lebih melakukan pengamatan
terhadap variabel terikat, yaitu variabel yang biasanya menerima akibat
terjadinya perubahan secara sistematis dalam variabel bebas (Sukardi, 2008:
182).
Observasi dilakukan pada cirri-ciri tingkah laku
subjek yang diteliti. Dalam melakukan pengamatan ini peneliti melakukan
pengukuran dangan menggunakan instrument. Sebagai contoh bila peneliti
melakukan penelitian eksperimen untuk mengetahui apakah metode tertentu
mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar, maka setelah pelaksanaan
perlakuan dilakukan pengukuran pada prestasi belajar pada kedua kelompok
eksperimenal dan kelompok control dengan menggunakan tes. Hasil tes kemudian
dibandingkan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan.
C.
Validitas
Eksperimental
Variabel luar yang tidak dikontrol yang dapat
mempengaruhi performansi pada variabel terikat dapat mengancam validitas suatu
eksperimen. Suatu eksperimen dikatakan valid jika hasil yang diperoleh hanya
disebabkan oleh variabel bebas yang dimanipulasi, dan jika hasil tersebut dapat
digeneralisasikan pada situasi diluar setting eksperimen.
Terdapat dua kondisi yang harus diterima yang diacu
sebagai validitas internal dan validitas eksternal. Validitas internal mengacu
pada kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel bebas adalah suatu
hasil langsung dari variabel bebas yang dimanipulasi, bukan dari variabel lain.
Validitas eksternal mengacu pada kondisi bahwa hasil yang diperoleh dapat
digeneralisasikan dan dapat diterapkan pada kelompok dan lingkungan diluar
setting eksperimental (Emzir, 2008: 71).
D.
Prosedur
Penelitian Eksperimen
Pada
umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah
seperti berikut, yaitu:
1. Melakukan
kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak
dipecahkan.
2. Mengidentifikasi
dan mendefinisikan masalah.
3. Melakukan
studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis
penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan
definisi istilah.
4. Membuat
rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi
variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi
proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan
penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang
mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam
kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi
instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang
memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi
prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
5. Melaksanakan
eksperimen.
6. Mengumpulkan
data kasar dan proses eksperimen.
7. Mengorganisasikan
dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
8. Menganalisis
data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk
menentukan tahap signifikasi hasilnya.
9. Menginterpretasikan
hasil, perumusan
kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan
Suatu eksperimen biasanya melibatkan dua kelompok,
satu kelompok yang dieksperimenkan dan satu kelompok control. Kelompok
eksperimental biasanya menerima suatu yang baru, suatu perlakuan dibawah
penyelidikan. Sementara itu, kelompok kiontrol biasanya menerime suatu
perlakuan yang berbeda atau perlakuan yang biasa. Kelompok kontrol diperlukan
untuk tujuan perbandingan untuk melihat apakah perlakuan baru lebih efektif
daripada perlakuan yang biasa.
E.
Bentuk-bentuk
Penelitian Eksperimen
1.
Pra-Exsperimental
Design
Dikatakan
pre-experimental design karena desain ini belum sungguh-sungguh, Karena masih
terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel
terikat. Jadi, hasil eksperimen yang merupakan variabel terikat itu bukan
semata-mata dipengaruhi oleh variabel bebas. Hal ini terjadi karena tidak
adanya variabel kontrol dan sampel yang dipilih tidak secara random. Bentuk pra-eksperimental
design ada beberapa macam, yaitu:
a.
One-Shot
Case Study
Paradigma
dalam penelitian model ini adalah:
|
O = Observasi (Variabel
Terikat)
Paradigma ini dibaca:
terdapat suatu kelompok diberi treatment/perlakuan, dan selanjutnya diobservasi
hasilnya.
Dalam
hal ini "studi" beberapa pengobatan "X" adalah mencoba pada
kelompok tunggal, observasi (O) kemudian dilakukan pada anggota kelompok itu
untuk menilai efek dari pengobatan. Kurangnya kelompok kontrol (kelompok yang
tidak menerima X) dan kurangnya informasi tentang orang-orang yang mengalami X
melanggar sebagian besar prinsip-prinsip validitas internal dalam desain.
Berdasarkan sebuah studi kasus satu tembakan tidak ada pembenaran untuk
menyimpulkan X yang menyebabkan O (Tuckman, 1978: 2008).
Contoh
lembaga sekolah menduga bahwa program makan siang gratis (X). Setelah program
telah beroperasi selama enam bulan, guru yang diwawancarai, dan mereka
melaporkan (O) bahwa kasus-kasus mengganggu aktivitas ruang kelas yang minimal.
Kepala sekolah menyimpulkan bahwa program makan siang sekolah adalah mengurangi
ketegangan siswa dan agresi. Namun kepala sekolah tidak tahu (1) apakah
pengalaman spesifik atau kejadian (sejarah) selain dari program makan siang
telah memberikan kontribusi untuk perubahan perilaku yang diamati, (2) apakah
benar-benar ada perubahan relatif terhadap perilaku masa lalu dan jika ada,
apakah itu stabil, atau (3) apakah siswa yang berpartisipasi dalam program
makan siang yang cenderung berubah pula sebagai fungsi seleksi atau pematangan.
b.
One-Group
Pretest-Posttest Design
Pada
penelitian ini sebelumnya diberi pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan
demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat
dibandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Desain ini dapat
digambarkan sebagai berikut:
|
O2 = nilai posttest
(setelah diberi perlakuan)
Penelitian
ini berbeda dari studi kasus satu tembakan dengan menggunakan pretest yang
menyediakan beberapa informasi tentang sampel. Namun, ini desain (nondesain)
gagal untuk mengendalikan sejarah, pengujian pematangan, dan regresi statistik
dan dengan demikian tidak dapat dianggap sah. Sementara itu memberikan beberapa
informasi tentang seleksi karena pretest menggambarkan keadaan awal dari
dipilih pada variabel tergantung, jatuh jauh dari menyerahkan sumber-sumber
lain dari cacat internal (Tuckman, 1978: 129).
c.
Intact-Group
Comparison
Pada
desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi
dibagi dua, yaitu setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan)
dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan) (Sugiyono,
2008: 75). Paradigma penelitiannya sebagai berikut:
|
Pengaruh
Perlakuan = O1 – O2
Kelompok
kedua atau kelompok kontrol yang tidak menerima perlakuan (X) sebagai sumber
perbandingan untuk kelompok perlakuan yang menerima digunakan dalam pendekatan
ini. Karena kelompok kontrol yang digunakan, validitas faktor-faktor seperti
sejarah (dan untuk tingkat lebih rendah, pematangan) dikendalikan oleh kelompok kontrol. Artinya, jika beberapa peristiwa
kebetulan lain yang mempengaruhi hasil, itu akan lebih mungkin mempengaruhi O2
dan O1, ini mengendalikan sejarah (Tuckman, 1978: 129).
Namun,
subyek kelompok kontrol dan kelompok subyek eksperimen dipilih tidak secara
acak (atau pada dasar lainnya yang diperlukan untuk mengontrol bias seleksi).
Garis putus-putus antara kelompok menunjukkan mereka adalah kelompok utuh.
Selain itu, dengan tidak ada pretest, adalah mustahil untuk memastikan apakah
subyek kontrol dan kelompok eksperimen pada dasarnya setara. Dengan demikian,
pendekatan ini tidak dapat diterima karena gagal untuk mengendalikan tidak
hanya untuk ketidakabsahan pemilihan tetapi juga untuk ketidakabsahan
didasarkan pada kematian eksperimental. Itu tidak ada cara untuk mengatakan
apakah satu kelompok sudah lebih tinggi tentang O (atau ukuran terkait lainnya)
sebelum perlakuan, yang mungkin telah menyebabkan untuk mengungguli kelompok
lain pada posttest.
2.
True
Exsperimental Design
Dikatakan
true-experimental (eksperimen yang betul-betul), karena dalam desain ini
peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya
eksperimen. Peneliti berusaha mengontrol semua variabel yang mencampuri, paling
tidak memerhatikan pengaruhnya, sementara berusaha menentukan jika perlakuanlah
yang benar-benar menyebabkan perubahan (Emzir, 2008: 98).
Dengan
demikian validitas internal menjadi tinggi. Ciri utama dari penelitian ini
adalah sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol
diambil secara random dari populasi tertentu.
Terdapat
dua bentuk design true-experimental, yaitu:
a.
Posttest
Only Control Design
Dalam
desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R).
Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompok
yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak
diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Setiap kelompok yang dipilih dan
ditempatkan secara random diberi perlakuan. Postest kemudian diberikan kepada
stiap subjeck unutk menentukan jika ada perbedaan antara kedua kelompok
(Sugiyono, 2008: 76).
|
Sementara
penelitian ini mendekati metode yang baik, ia mempunyai kelemahan sedikit pada
penukuran pretest. Sulit menentukan jika perbedaan pada akhir studi merupakan
perbedaan aktual dari kemungkinan perbedaan pada permulaan studi (Emzir, 2008:
99). Pengaruh adanya perlakuan yaitu (O1:O2). Dalam
penelitian yang sesungguhnya, pengaruh treatment dianalisis dengan uji beda,
menggunakan statistik t-test.
Desain ini
menggunakan dua kelompok, salah satunya mengalami perlakuan sementara lainnya
tidak, sehingga mengendalikan sejarah dan pematangan. Selanjutnya, kelompok
tugas dibuat secara acak, yang mengontrol untuk seleksi. Selain itu, pretest
tidak diberikan kepada kelompok baik dalam kontrol agar efek pengujian
sederhana dan interaksi antara pengujian dan perlakuan. Desain ini cukup ideal,
maka, dalam hal mengendalikan semua ancaman terhadap keabsahan atau sumber dari
bias (Tuckman, 1978: 130).
b.
Pretest-Posttest
Group Design
Dalam
desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random, kemudian diberi
pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Desain ini merupakan yang paling efektif dalam
istilah penunjukan sebab-akibat, tetapi juga yang paling sulit dilakukan.
Desain ini melengkapi kelompok kontrol maupun pengukuran perubahan, tetapi juga
menambahkan pretest untuk menilai perbedaan antara kedua kelompok sebelum
dilakukan perlakuan(Emzir, 2008: 98).
Dua kelompok
yang digunakan dalam desain ini, satu kelompok eksperimental, menerima treatmen
(X), sedangkan kelompok kedua, kelompok kontrol, tidak. (penugasan kepada kedua
kelompok adalah secara acak). Kedua kelompok diberi pretest dan posttest. Penggunaan
pretest menjadi satunya perbedaan antara desain ini dan dengan sebelumnya.
Hasil
pretest yang baik jika nilai kelompok eksperimen tidak berbeda secara
signifikan. Pengaruh perlakuan adalah (O2 – O1) – (O4
– O3) (Sugiyono, 2008: 76).
|
3.
Factorial
Design
Desain
faktorial merupakan modifikasi dari design true-experimental, yaitu dengan
memperhatikan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan
(variabel bebas) terhadap hasil (variabel terikat). Desain faktorial melibatkan
dua atau lebih variabel bebas, dan sekurangnya satu yang dimanipulasi oleh si
peneliti.
Dengan komplikasi lebih lanjut bahwa
variabel independen tambahan (biasanya variabel moderator) termasuk di samping
variabel perlakuan. Sebuah ilustrasi dari modifikasi dari desain
pretest-posttest kelompok kontrol dengan satu variabel ke dalam desain faktorial dengan satu
variabel perlakuan dan satu variabel moderator (variabel moderator ditandai
dengan huruf Y dengan dua tingkat, Y1 dan Y2) (Tuckman,
1978: 133)
Istilah
faktorial mengacu pada fakta bahwa desain tersebut melibatkan beberapa faktor.
Setiap faktor memiliki dua atau lebih tingkatan. Desain faktorial yang paling
sederhana adalah
, memerlukan empat kelompok. Dalam desain factorial
kedua-duanya bisa dimanipulasi, tetapi desain
biasanya hanya
melibatkan satu variabel yang dimanipulasi. Variabel yang tidak dimanipulasi
sering diacu sebagai variabel kontrol (Emzir, 2008: 106).
Paradigma
desain faktorial adalah:
|
Pada
desain ini semua kelompok dipilih secara random, kemudian masing-masing diberi
prestest. Kelompok untuk penelitian dikatakan baik jika setiap kelompok nilai
pretestnya sama. Jadi O1=O3=O5=O7,
dalam hal ini variabel moderatornya adalah Y1 dan Y2.
Treatment/perlakuan
dicobakan pada kelompok eksperimen pertama yang telah diberi prestest (O1)
dan kelompok eksperimen kedua (O5) yang telah diberi pretest.
Pengaruh perlakuan (X) untuk Y1 adalah (O2 – O1)
- (O4 – O3). Dan pengaruh perlakuan (X) untuk Y2
adalah (O6 – O5) - (O8 – O7) (Sugiyono,
2008: 77).
4.
Quasi
Experimental Deesign
Bentuk
desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true-experimental yang sulit
dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat
berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi
pelaksanaan eksperimen. Quasi-experimental digunakan karena pada kenyataannya
sulit mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian.
Terdapat
dua bentuk desain quasi-experimental, yaitu:
a.
Time
Series Design
|
Ada kalanya kelompok pembanding atau kontrol tidak
dapat disertakan dalam percobaan. Ketika perubahan yang terjadi dalam sistem
seluruh sekolah, misalnya, mungkin mustahil untuk menemukan sistem kedua
sekolah yang: (1) adalah cara yang paling sebanding dengan yang pertama, (2)
belum juga dimasukkan perubahan, dan (3) bersedia untuk bekerjasama. Perubahan
sering terjadi tanpa memberikan kelompok kontrol untuk kenyamanan peneliti.
Menghadapi keadaan ini, salah satu mungkin mempertimbangkan satu tembakan studi
kasus atau satu kelompok pretest posttest-desain. Namun, solusi ketiga, yang
memberikan kontrol yang lebih baik (Tuckman, 1978: 137).
Dalam
desain kelompok ini, kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat
dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai
empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan
kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali
ternyata hasilnya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil,
tidak menentu dan tidak konsisten. Setelah kestabilan kelompok tersebut dapat
diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment. Desain penelitian ini hanya
menggunakan satu kelompok saja sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol (Sugiyono,
2008: 78).
Hasil
pretes yang baik adalah O1 = O2 = O3 = O4
dan hasil perlakuan yang baik adalah O5 = O6 = O7
= O8. Dan besarnya pengaruh perlakuan adalah (O5 + O6
+ O7 + O8) - (O1 + O2 + O3
+ O4)
b.
Nonequivalent
Control Group Design
Seringkali
dalam penelitian pendidikan, peneliti tidak dalam posisi untuk menetapkan
subjek secara acak untuk pemberian perlakuan. Boleh jadi kepala sekolah mungkin
bersedia untuk membuat kelas menjadi dua untuk pengujian, mereka tidak mungkin
mengizinkan peneliti untuk membagi kelas dan menyusun kembali mereka,
melainkan mereka tetap dalam satu
kelompok yang utuh. Selain itu, ada alasan untuk percaya bahwa kelas-kelas
mungkin telah awalnya disusun secara sistematis (sehingga menciptakan suatu bias
untuk tujuan peneliti)(Tuckman, 1978: 141).
![]() |
Desain
ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain
ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random.
Setiap kelompok diberi pretest, kemudian diberi perlakuan dan terakhir
diberikan posttest. Kekurangan penempatan secara random menambah sumber
ketidakvalidan. Keuntungan desain ini adalah bahwa kelas-kelas yang digunakan
sebagaimana adanya, pengaruh yang mungkin dari penyelenggaraan reaktif dapat
dikurangi. Subjek penelitian mungkin sama sekali tidak menyadari bahwa mereka
dilibatkan dalam penelitian (Emzir, 2008: 103).
BAB
III
KESIMPULAN
Penelitian
eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis,
dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian
eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect
relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental
dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau
lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.
Adapun
karakteristik Penelitian Eksperimen adalah: manipulasi, mengontrol variabel, melakukan
observasi. Terdapat dua kondisi yang harus diterima yang diacu dalam penelitian
eksperimen yaitu validitas internal dan validitas eksternal.
Adapun bentuk-bentuk penelitian eksperimen adalah:
1.
Pre-exsperimental, yang
dibagi menjadi 3, yaitu:
-
One-Shot Case Study
-
One Group
Pretest-Posttest
-
Intec-Group Comparison
2.
True Exsperimental,
yang dibagi menjadi 2, yaitu:
-
Posttest Only Control
Design
-
Pretest Control Group
Design
3.
Factorial Design
4.
Quasi Experimental,
yang dibagi menjadi 2, yaitu:
-
Time-Series Design
-
Non-Equivalent Control
Group Design
DAFTAR
PUSTAKA
Emzir, 2008, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif
& Kualitatif Cet. IV, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Sukardi, 2008, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi
dan Praktiknya Cet. V, Bumi Aksara, Jakarta
Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R & D Cet. IV, Alfabeta, Bandung
Tuckman, W.
Bruce, 1978, Conduction Educational
Research Second Edition,Haccourt Brace Jovanovich, Publisher. New York

No comments:
Post a Comment