Saturday, October 13, 2012

Penelitian Eksperimen


BAB I
PENDAHULUAN
Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep.
Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.












BAB II
PENELITIAN EKSPERIMEN

A.     Pengertian Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen adalah penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2008: 72)
Gay dalam Emzir menyatakan bahwa metode penelitian eksperimen merupakan satu-satunya penelitian yang dapat menguji secara benar hipotesis menyangkut hubungan kausal (sebab akibat). Dalam studi eksperimen peneliti mamanipulasi paling sedikit satu variabel, mengontrol variabel lain yang relevan, dan mengobservasi efek/pengaruhnya terhadap satu atau lebih variabel terikat. Peneliti menentukan “siapa memperoleh apa”, kelompok mana dari subjek yang memperoleh perlakuan yang mana. Manipulasi variabel bebas merupakan salah satu karakteristik yang membedakan penelitian eksperimen dengan penelitian lain. Variabel bebas juga diasu sebagai variabel eksperimental, variabel penyebab, atau variabel perlakuan yang aktivitas atau karakteristiknya dipercaya membuat suatu perbedaan. Dalam penelitian pendidikan, variabel yang biasa dimanipulasi termasuk metode pengajaran, jenis penguatan (reinforcement), pengaturan lingkungan belajar, jenis materi belajar, ukuran kelompok belajar. Variabel terikat juga diacu sebagai variabel kriteria atau variabel pengaruh, yaitu hasil dari studi. Perubahan atau perbedaan dalam kelompok sebagai suatu hasil manipulasi variabel bebas (Emzir, 2008: 63-64).
Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.

B.       Karakteristik Penelitian Eksperimen
Penelitian Eksperimen pada umumnya memiliki tiga karakteristik penting yaitu: manipulasi, mengontrol variabel dan melakukan observasi.

1.        Manipulasi
Karakteristik pertama yang selalu ada dalam penelitian eksperimen adalah adanya tindakan manipulasi variabel yang secara terencana dilakukan oleh si peneliti. Yang dimaksud dengan manipulasi yaitu tindakan atau perlakuan yang dilakukan oleh seorang peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan efek dalam variabel terikat (Sukardi, 2008: 181).
Secara sederhana manipulasi dimaksudkan bahwa peneliti memutuskan apa bentuk atau nilai-nilai variabel bebas yang akan diambil dan kelompok mana yang akan mendapat bentuk yang mana. Agar dapat memanipulasi suatu variabel, kita yang harus menentukan siapa akan menjadi apa atau siapa akan mendapat apa. Walaupun desain suatu penelitian eksperimental dapat mencakup beberapa variabel yang ditentukan. Sekurang-kurangnya satu variabel harus dimanipulasi.
2.        Mengontrol Variabel
Menurut Gay dalam Emzir pengendalian mangacu pada usaha-usaha pihak peneliti untuk menyingkirkan pengaruh suatu variabel (selain variabel bebas) yang dapat mempengaruhi performansi pada variabel terikat. Dengan kata lain, peneliti ingin agar kelompok sedapat mungkin sama, dengan demikian perbedaan utama diantara mereka hanyalah variabel bebas yang disebabkan oleh peneliti (Emzir, 2008: 67)
Kegiatan mengontrol suatu variabel atau subjek dalam penelitian eksperimen memiliki peranan penting, karena tanpa melakukan control secara sistematis, seorang peneliti tidak mungkin dapat melakukan evaluasi dengan melakukan pengukuran secara cermat terhadap variabel terikat.
            Sebelum eksperimen dilaksanakan ada berbagai faktor, variabel, serta kondisi apa saja yang berkaitan dengan kegiatan eksperimen yang perlu diperhatikan. Hal ini untuk mengantisipasi adanya perbedaan sesudah eksperimen itu benar-benar disebabkan oleh metode bukan karena faktor lain. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut:
a.       Latar belakang kebudayaan. Pelajar yang mempunyai kebudayaan yang berbeda besar kemungkinan mempunyai sifat dan kebiasaan yang berbeda pula. Untuk itu perlu diperhatikan agar adanya perbedaan bukan karena faktor ini tetapi faktor metode mengajarnya. Ada siswa yang setiap hari selalu belajar bersama dengan kakak-kakaknya, mengikuti pelajaran tambahan setiap sore, dan sebagainya.
b.      Dasar matematika; Sebelum eksperimen dimulai siswa masing-masing kelas/kelompok perlu diseimbangkan agar tidak terjadi salah satu kelas terdiri atas siswa yang pandai-pandai, sedang kelas lainnya terdiri atas siswa yang sedang dan kurang pandai. Sehingga adanya perbedaan hasil akhir eksperimen bukan disebabkan oleh metode mengajar tetapi oleh kondisi siswa yang berbeda.
c.       Ruangan kelas. Ruangan kelas kedua calon kelompok eksperimen dan kontrol itu harus dibuat sedemikian sehingga tidak ada perbedaan kebisingan, kepengapan karena ventilasi yang kurang, tata ruang, dan tata cahaya.
d.      Waktu belajar. Perlu diperhatikan waktu berlangsungnya jam pelajaran, tidak diperkenankan kelompok eksperimen (E) masuk pagi kelompok control (K) masuk sore atau sebaliknya. Jika kelas E masuk pagi, kelas K harus masuk pagi, kalau kelas E masuk jam 8.00 kelas K tidak boleh masuk jam 12.00, sehingga hasil eksperimen dikotori oleh faktor masuk sekolah. Selain itu, jumlah jam kedua kelas/kelompok harus sama
e.       Cara mengajar. Metode-metode yang akan dicobakan harus ditetapkan dan dirancang lebih dahulu serta dijalankan secara tertib dan benar. Cara guru mengajar harus sesuai dengan pola yang ditetapkan dalam desain eksperimen yang dipersiapkan.
f.       Guru/pengajar. Latar belakang pendidikan, serta pengalaman mengajar diupayakan mempunyai tingkat, level, atau derajat yang seimbang. Demikian tingkat kedisiplinan maupun kemampuannya.
g.      Lain-lain. Walaupun peneliti sudah berupaya mengendalikan variabel non eksperimen agar tidak memengaruhi hasil eksperimen, namun sering dijumpai adanya kejadian yang sulit dikontrol dan diprediksi, misalnya: tiba-tiba dijumpai adanya siswa yang suka mengganggu jalannya pelajaran, sehingga mempengaruhi temannya untuk tidak disiplin, atau terganggu konsentrasinya akibat ulah satu atau beberapa temannya. Dapat terjadi pula adanya pemberian bimbingan belajar di luar jam pelajaran, baik oleh anggota keluarga atau yang lain.


3.        Melakukan observasi
Selama proses penelitian berlangsung, peneliti melakukan observasi terhadap kedua kelompok tersebut. Tujuan melakukan observasi adalah untuk melihat dan mencatat fenomena apa yang muncul yang memungkinkan terjadinya perbedaan diantara dua kelompok. Dalam proses eksperimen yang biasanya ada dua kelompok variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat, maka peneliti dianjurkan untuk lebih melakukan pengamatan terhadap variabel terikat, yaitu variabel yang biasanya menerima akibat terjadinya perubahan secara sistematis dalam variabel bebas (Sukardi, 2008: 182).
Observasi dilakukan pada cirri-ciri tingkah laku subjek yang diteliti. Dalam melakukan pengamatan ini peneliti melakukan pengukuran dangan menggunakan instrument. Sebagai contoh bila peneliti melakukan penelitian eksperimen untuk mengetahui apakah metode tertentu mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar, maka setelah pelaksanaan perlakuan dilakukan pengukuran pada prestasi belajar pada kedua kelompok eksperimenal dan kelompok control dengan menggunakan tes. Hasil tes kemudian dibandingkan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan.

C.      Validitas Eksperimental
Variabel luar yang tidak dikontrol yang dapat mempengaruhi performansi pada variabel terikat dapat mengancam validitas suatu eksperimen. Suatu eksperimen dikatakan valid jika hasil yang diperoleh hanya disebabkan oleh variabel bebas yang dimanipulasi, dan jika hasil tersebut dapat digeneralisasikan pada situasi diluar setting eksperimen.
Terdapat dua kondisi yang harus diterima yang diacu sebagai validitas internal dan validitas eksternal. Validitas internal mengacu pada kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel bebas adalah suatu hasil langsung dari variabel bebas yang dimanipulasi, bukan dari variabel lain. Validitas eksternal mengacu pada kondisi bahwa hasil yang diperoleh dapat digeneralisasikan dan dapat diterapkan pada kelompok dan lingkungan diluar setting eksperimental (Emzir, 2008: 71).

D.      Prosedur Penelitian Eksperimen
            Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu:
1.      Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
2.      Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
3.      Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
4.      Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
5.      Melaksanakan eksperimen.
6.      Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
7.      Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
8.      Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
9.      Menginterpretasikan hasil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan
Suatu eksperimen biasanya melibatkan dua kelompok, satu kelompok yang dieksperimenkan dan satu kelompok control. Kelompok eksperimental biasanya menerima suatu yang baru, suatu perlakuan dibawah penyelidikan. Sementara itu, kelompok kiontrol biasanya menerime suatu perlakuan yang berbeda atau perlakuan yang biasa. Kelompok kontrol diperlukan untuk tujuan perbandingan untuk melihat apakah perlakuan baru lebih efektif daripada perlakuan yang biasa.
E.       Bentuk-bentuk Penelitian Eksperimen
1.      Pra-Exsperimental Design
Dikatakan pre-experimental design karena desain ini belum sungguh-sungguh, Karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel terikat. Jadi, hasil eksperimen yang merupakan variabel terikat itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel bebas. Hal ini terjadi karena tidak adanya variabel kontrol dan sampel yang dipilih tidak secara random. Bentuk pra-eksperimental design ada beberapa macam, yaitu:

a.      One-Shot Case Study
Paradigma dalam penelitian model ini adalah:

X O
 
                                    X = Treatment yang diberikan (variabel bebas)
                                    O = Observasi (Variabel Terikat) 
Paradigma ini dibaca: terdapat suatu kelompok diberi treatment/perlakuan, dan selanjutnya diobservasi hasilnya.
            Dalam hal ini "studi" beberapa pengobatan "X" adalah mencoba pada kelompok tunggal, observasi (O) kemudian dilakukan pada anggota kelompok itu untuk menilai efek dari pengobatan. Kurangnya kelompok kontrol (kelompok yang tidak menerima X) dan kurangnya informasi tentang orang-orang yang mengalami X melanggar sebagian besar prinsip-prinsip validitas internal dalam desain. Berdasarkan sebuah studi kasus satu tembakan tidak ada pembenaran untuk menyimpulkan X yang menyebabkan O (Tuckman, 1978: 2008).
            Contoh lembaga sekolah menduga bahwa program makan siang gratis (X). Setelah program telah beroperasi selama enam bulan, guru yang diwawancarai, dan mereka melaporkan (O) bahwa kasus-kasus mengganggu aktivitas ruang kelas yang minimal. Kepala sekolah menyimpulkan bahwa program makan siang sekolah adalah mengurangi ketegangan siswa dan agresi. Namun kepala sekolah tidak tahu (1) apakah pengalaman spesifik atau kejadian (sejarah) selain dari program makan siang telah memberikan kontribusi untuk perubahan perilaku yang diamati, (2) apakah benar-benar ada perubahan relatif terhadap perilaku masa lalu dan jika ada, apakah itu stabil, atau (3) apakah siswa yang berpartisipasi dalam program makan siang yang cenderung berubah pula sebagai fungsi seleksi atau pematangan.


b.      One-Group Pretest-Posttest Design
Pada penelitian ini sebelumnya diberi pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat dibandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut:

O1 X O2
 
                                    O1 = nilai pretest (sebelum diberi perlakuan)
                                    O2 = nilai posttest (setelah diberi perlakuan)
            Penelitian ini berbeda dari studi kasus satu tembakan dengan menggunakan pretest yang menyediakan beberapa informasi tentang sampel. Namun, ini desain (nondesain) gagal untuk mengendalikan sejarah, pengujian pematangan, dan regresi statistik dan dengan demikian tidak dapat dianggap sah. Sementara itu memberikan beberapa informasi tentang seleksi karena pretest menggambarkan keadaan awal dari dipilih pada variabel tergantung, jatuh jauh dari menyerahkan sumber-sumber lain dari cacat internal (Tuckman, 1978: 129).

c.       Intact-Group Comparison
Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua, yaitu setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan) (Sugiyono, 2008: 75). Paradigma penelitiannya sebagai berikut:

X    O1
            O2
 
                                    O1 = Hasil pengukuran setengah kelompok yang diberi perlakuan
                                    O2 = Hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan
                                    Pengaruh Perlakuan = O1 – O2
            Kelompok kedua atau kelompok kontrol yang tidak menerima perlakuan (X) sebagai sumber perbandingan untuk kelompok perlakuan yang menerima digunakan dalam pendekatan ini. Karena kelompok kontrol yang digunakan, validitas faktor-faktor seperti sejarah (dan untuk tingkat lebih rendah, pematangan) dikendalikan oleh kelompok  kontrol. Artinya, jika beberapa peristiwa kebetulan lain yang mempengaruhi hasil, itu akan lebih mungkin mempengaruhi O2 dan O1, ini mengendalikan sejarah (Tuckman, 1978: 129).
            Namun, subyek kelompok kontrol dan kelompok subyek eksperimen dipilih tidak secara acak (atau pada dasar lainnya yang diperlukan untuk mengontrol bias seleksi). Garis putus-putus antara kelompok menunjukkan mereka adalah kelompok utuh. Selain itu, dengan tidak ada pretest, adalah mustahil untuk memastikan apakah subyek kontrol dan kelompok eksperimen pada dasarnya setara. Dengan demikian, pendekatan ini tidak dapat diterima karena gagal untuk mengendalikan tidak hanya untuk ketidakabsahan pemilihan tetapi juga untuk ketidakabsahan didasarkan pada kematian eksperimental. Itu tidak ada cara untuk mengatakan apakah satu kelompok sudah lebih tinggi tentang O (atau ukuran terkait lainnya) sebelum perlakuan, yang mungkin telah menyebabkan untuk mengungguli kelompok lain pada posttest.
           

2.      True Exsperimental Design
Dikatakan true-experimental (eksperimen yang betul-betul), karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Peneliti berusaha mengontrol semua variabel yang mencampuri, paling tidak memerhatikan pengaruhnya, sementara berusaha menentukan jika perlakuanlah yang benar-benar menyebabkan perubahan (Emzir, 2008: 98).
Dengan demikian validitas internal menjadi tinggi. Ciri utama dari penelitian ini adalah sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu.
Terdapat dua bentuk design true-experimental, yaitu:
a.      Posttest Only Control Design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Setiap kelompok yang dipilih dan ditempatkan secara random diberi perlakuan. Postest kemudian diberikan kepada stiap subjeck unutk menentukan jika ada perbedaan antara kedua kelompok (Sugiyono, 2008: 76).  

R    X    O1
R           O2
 
 



Sementara penelitian ini mendekati metode yang baik, ia mempunyai kelemahan sedikit pada penukuran pretest. Sulit menentukan jika perbedaan pada akhir studi merupakan perbedaan aktual dari kemungkinan perbedaan pada permulaan studi (Emzir, 2008: 99). Pengaruh adanya perlakuan yaitu (O1:O2). Dalam penelitian yang sesungguhnya, pengaruh treatment dianalisis dengan uji beda, menggunakan statistik t-test.
            Desain ini menggunakan dua kelompok, salah satunya mengalami perlakuan sementara lainnya tidak, sehingga mengendalikan sejarah dan pematangan. Selanjutnya, kelompok tugas dibuat secara acak, yang mengontrol untuk seleksi. Selain itu, pretest tidak diberikan kepada kelompok baik dalam kontrol agar efek pengujian sederhana dan interaksi antara pengujian dan perlakuan. Desain ini cukup ideal, maka, dalam hal mengendalikan semua ancaman terhadap keabsahan atau sumber dari bias (Tuckman, 1978: 130).
           

b.      Pretest-Posttest Group Design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Desain ini merupakan yang paling efektif dalam istilah penunjukan sebab-akibat, tetapi juga yang paling sulit dilakukan. Desain ini melengkapi kelompok kontrol maupun pengukuran perubahan, tetapi juga menambahkan pretest untuk menilai perbedaan antara kedua kelompok sebelum dilakukan perlakuan(Emzir, 2008: 98).  
Dua kelompok yang digunakan dalam desain ini, satu kelompok eksperimental, menerima treatmen (X), sedangkan kelompok kedua, kelompok kontrol, tidak. (penugasan kepada kedua kelompok adalah secara acak). Kedua kelompok diberi pretest dan posttest. Penggunaan pretest menjadi satunya perbedaan antara desain ini dan dengan sebelumnya.
Hasil pretest yang baik jika nilai kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Pengaruh perlakuan adalah (O2 – O1) – (O4 – O3) (Sugiyono, 2008: 76).

      R    O1       X   O2
      R    O3                   O4
 
 




3.      Factorial Design
Desain faktorial merupakan modifikasi dari design true-experimental, yaitu dengan memperhatikan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan (variabel bebas) terhadap hasil (variabel terikat). Desain faktorial melibatkan dua atau lebih variabel bebas, dan sekurangnya satu yang dimanipulasi oleh si peneliti.
            Dengan komplikasi lebih lanjut bahwa variabel independen tambahan (biasanya variabel moderator) termasuk di samping variabel perlakuan. Sebuah ilustrasi dari modifikasi dari desain pretest-posttest kelompok kontrol dengan satu variabel  ke dalam desain faktorial dengan satu variabel perlakuan dan satu variabel moderator (variabel moderator ditandai dengan huruf Y dengan dua tingkat, Y1 dan Y2) (Tuckman, 1978: 133)
Istilah faktorial mengacu pada fakta bahwa desain tersebut melibatkan beberapa faktor. Setiap faktor memiliki dua atau lebih tingkatan. Desain faktorial yang paling sederhana adalah , memerlukan empat kelompok. Dalam desain factorial kedua-duanya bisa dimanipulasi, tetapi desain  biasanya hanya melibatkan satu variabel yang dimanipulasi. Variabel yang tidak dimanipulasi sering diacu sebagai variabel kontrol (Emzir, 2008: 106).
Paradigma desain faktorial adalah:

  R    O1       X    Y1   O2
  R    O3                   Y1    O4
  R    O5       X    Y2   O6
  R    O7                    Y2   O8

 
 






Pada desain ini semua kelompok dipilih secara random, kemudian masing-masing diberi prestest. Kelompok untuk penelitian dikatakan baik jika setiap kelompok nilai pretestnya sama. Jadi O1=O3=O5=O7, dalam hal ini variabel moderatornya adalah Y1 dan Y2.
Treatment/perlakuan dicobakan pada kelompok eksperimen pertama yang telah diberi prestest (O1) dan kelompok eksperimen kedua (O5) yang telah diberi pretest. Pengaruh perlakuan (X) untuk Y1 adalah (O2 – O1) - (O4 – O3). Dan pengaruh perlakuan (X) untuk Y2 adalah (O6 – O5) - (O8 – O7) (Sugiyono, 2008: 77).


4.      Quasi Experimental Deesign
Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true-experimental yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Quasi-experimental digunakan karena pada kenyataannya sulit mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian.
Terdapat dua bentuk desain quasi-experimental, yaitu:
a.      Time Series Design

O1 O 2 O3 O4     X   O5 O6 O7 O8
 
 


Ada kalanya kelompok pembanding atau kontrol tidak dapat disertakan dalam percobaan. Ketika perubahan yang terjadi dalam sistem seluruh sekolah, misalnya, mungkin mustahil untuk menemukan sistem kedua sekolah yang: (1) adalah cara yang paling sebanding dengan yang pertama, (2) belum juga dimasukkan perubahan, dan (3) bersedia untuk bekerjasama. Perubahan sering terjadi tanpa memberikan kelompok kontrol untuk kenyamanan peneliti. Menghadapi keadaan ini, salah satu mungkin mempertimbangkan satu tembakan studi kasus atau satu kelompok pretest posttest-desain. Namun, solusi ketiga, yang memberikan kontrol yang lebih baik (Tuckman, 1978: 137).
Dalam desain kelompok ini, kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali ternyata hasilnya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu dan tidak konsisten. Setelah kestabilan kelompok tersebut dapat diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol (Sugiyono, 2008: 78).
Hasil pretes yang baik adalah O1 = O2 = O3 = O4 dan hasil perlakuan yang baik adalah O5 = O6 = O7 = O8. Dan besarnya pengaruh perlakuan adalah (O5 + O6 + O7 + O8) - (O1 + O2 + O3 + O4)

b.      Nonequivalent Control Group Design  
            Seringkali dalam penelitian pendidikan, peneliti tidak dalam posisi untuk menetapkan subjek secara acak untuk pemberian perlakuan. Boleh jadi kepala sekolah mungkin bersedia untuk membuat kelas menjadi dua untuk pengujian, mereka tidak mungkin mengizinkan peneliti untuk membagi kelas dan menyusun kembali mereka, melainkan  mereka tetap dalam satu kelompok yang utuh. Selain itu, ada alasan untuk percaya bahwa kelas-kelas mungkin telah awalnya disusun secara sistematis (sehingga menciptakan suatu bias untuk tujuan peneliti)(Tuckman, 1978: 141).
 



Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. Setiap kelompok diberi pretest, kemudian diberi perlakuan dan terakhir diberikan posttest. Kekurangan penempatan secara random menambah sumber ketidakvalidan. Keuntungan desain ini adalah bahwa kelas-kelas yang digunakan sebagaimana adanya, pengaruh yang mungkin dari penyelenggaraan reaktif dapat dikurangi. Subjek penelitian mungkin sama sekali tidak menyadari bahwa mereka dilibatkan dalam penelitian (Emzir, 2008: 103).


                                       










BAB III
KESIMPULAN

            Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.
            Adapun karakteristik Penelitian Eksperimen adalah: manipulasi, mengontrol variabel, melakukan observasi. Terdapat dua kondisi yang harus diterima yang diacu dalam penelitian eksperimen yaitu validitas internal dan validitas eksternal.
            Adapun bentuk-bentuk penelitian eksperimen adalah:
1.        Pre-exsperimental, yang dibagi menjadi 3, yaitu:
-          One-Shot Case Study
-          One Group Pretest-Posttest
-          Intec-Group Comparison
2.        True Exsperimental, yang dibagi menjadi 2, yaitu:
-          Posttest Only Control Design
-          Pretest Control Group Design
3.        Factorial Design
4.        Quasi Experimental, yang dibagi menjadi 2, yaitu:
-          Time-Series Design
-          Non-Equivalent Control Group Design




DAFTAR PUSTAKA

Emzir, 2008, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif Cet. IV, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Sukardi, 2008, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya Cet. V, Bumi Aksara, Jakarta
Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D Cet. IV, Alfabeta, Bandung
Tuckman, W. Bruce, 1978, Conduction Educational Research Second Edition,Haccourt Brace Jovanovich, Publisher. New York

No comments:

Post a Comment